Sejoli muda-mudi kerap kali kita temukan sedang berduaan di berbagai
waktu dan tempat. Entah sedang berjalan bersama, duduk-duduk di cafe,
ataupun yang sedang berboncengan di atas sepeda motor. Naasnya
pemandangan semacam ini kerap membuat hatiku bergejolak. Ada (sedikit)
rasa iri karena diriku masih sendiri dan belum punya suami(nahlohhh curhat), tapi lebih
tepatnya aku prihatin dengan kondisi mereka. Lihatlah bagaimana pasangan
muda-mudi (yang belum menikah tentunya) udah berani nemplok di satu
motor, deket-deketan, yang dibonceng pake pegangan ke doinya lagi.
Astaghfirullah… Bikin ngiri tau gak!! Eh, salah salah… Bikin prihatin
maksudnya…
Kemudian, di sisi lain di negeri ini ada muda-mudi yang lebih menjaga
jarak terhadap lawan jenisnya. Walaupun bisa minta boncengan, tapi
gegara yang bawa motor bukan mahromnya ia mengurungkan niat dan memilih
untuk berjalan kaki. Sangat berlawanan dengan yang tadi kan? Tapi kedua
tipe ini memang ada di Indonesia, dan masih lestari hingga kini.
Padahal aku pernah diceritain kalo zaman dulu tuh, pas ada laki-laki
dan perempuan yang belum sah menikah lalu berduaan, ketika mereka
kepergok orang lain pasti mereka jadi malu gitu. Lalu keadaan berubah
drastis, berpacaran maupun hubungan yang terlalu dekat dengan lawan
jenis kini dimaklumi bahkan sangat dimaklumi oleh masyarakat indonesia saat ini. Namun apakah salah jika mengingatkan mereka untuk
menjaga jarak? Ataukah karena ukuran baik dalam pergaulan sudah bergeser
kemudian kita harus mengikutinya?
sangat miris memang...tapi inilah indonesia negara muslim yang mengharuskan umat muslimnya terus menerus berhijrah ke arah yang lebih baik.
Nah, ada sebuah catatan dari pak ustadz yang ngehist bingits di kota bandung,tau ngga siapa namany?sebut saja nama ust dengan sebutan melati HAHAHA, janan deh yaaa kita sebutin aja inisialnya yaitu ustadz DF,yang bikin aku paham dengan
fenomena ini. Beliau mengatakan bahwa pola pergaulan (akhwat-ikhwan) di indonesia saat ini umumnya
sangat tergantung dengan ideologi / madda’ yang
melatar belakanginya. Berarti ideologi menjadi sesuatu yang penting dari
pola pergaulan kita, baik ideologi itu dianut dalam sistem negara,
maupun yang dipahami dan dijadikan prinsip oleh masing-masing pribadi.
Maka jelas orang Amerika Serikat amat bebas dalam pola pergaulannya
karena negeri ini memang berideolgi liberalisme. Bisa jadi kita dapat
pengaruh ini dari berbagai hal asing yang masuk ke Indonesia.
Terus kita pakai ideologi mana dong? Kalau dari pelajaran PKn pas
masih sekolah dulu dijelasin bahwa Indonesia memakai ideologi yang lahir
dari dirinya sendiri, yakni Pancasila. Namun jangan lupa bahwa Islam
juga telah mengatur berbagai macam hal, seperti makanan, ekonomi,
politik, termasuk hubungan antar manusia. So, sebagai muslim kita bisa menggunakan syariat untuk tolak ukur baik-buruknya pergaulan.
Sebagai contoh yuk kita buka surat An-Nur ayat ke-30 s/d 31 yang artinya:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30-31).
Salah satu poin yang diperintahkan Allah pada kita pada ayat tersebut adalah “menahan pandangannya”, istilah kerennya Gadhul Bashar.
Mangkanya kalau kebetulan lihat cowok kece atau gadis manis segera tuh
geser pandangan ke arah lain biar nggak terjerumus ama pikiran yang
enggak-enggak. Jangan dipelototin terus, apa lagi pake difoto.
Pasti ada banyak lagi dong syariat Islam buat mengatur pola pergaulan
kita? Jawabannya tentu saja. Oleh karena itu sering-sering baca
Al-Quran, hadist, dan datang ke majelis ilmu biar kita lebih banyak
tahu. Kita kan sudah diberikan hidayah untuk memeluk Islam oleh Allah,
masak mau ngikut-ngikut ideologi lain? Yuk makin banyak belajar tentang
Islam :D (Annonymous)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar