Sabtu, 27 September 2014

He with Her, Problem?

Sejoli muda-mudi kerap kali kita temukan sedang berduaan di berbagai waktu dan tempat. Entah sedang berjalan bersama, duduk-duduk di cafe, ataupun yang sedang berboncengan di atas sepeda motor. Naasnya pemandangan semacam ini kerap membuat hatiku bergejolak. Ada (sedikit) rasa iri karena diriku masih sendiri dan belum punya suami(nahlohhh curhat), tapi lebih tepatnya aku prihatin dengan kondisi mereka. Lihatlah bagaimana pasangan muda-mudi (yang belum menikah tentunya) udah berani nemplok di satu motor, deket-deketan, yang dibonceng pake pegangan ke doinya lagi. Astaghfirullah… Bikin ngiri tau gak!! Eh, salah salah… Bikin prihatin maksudnya…
Ilustrasi oleh Kazuha © 2KXIV
Ilustrasi oleh Kazuha © 2KXIV
Kemudian, di sisi lain di negeri ini ada muda-mudi yang lebih menjaga jarak terhadap lawan jenisnya. Walaupun bisa minta boncengan, tapi gegara yang bawa motor bukan mahromnya ia mengurungkan niat dan memilih untuk berjalan kaki. Sangat berlawanan dengan yang tadi kan? Tapi kedua tipe ini memang ada di Indonesia, dan masih lestari hingga kini.
Padahal aku pernah diceritain kalo zaman dulu tuh, pas ada laki-laki dan perempuan yang belum sah menikah lalu berduaan, ketika mereka kepergok orang lain pasti mereka jadi malu gitu. Lalu keadaan berubah drastis, berpacaran maupun hubungan yang terlalu dekat dengan lawan jenis kini dimaklumi bahkan sangat dimaklumi oleh masyarakat indonesia saat ini. Namun apakah salah jika mengingatkan mereka untuk menjaga jarak? Ataukah karena ukuran baik dalam pergaulan sudah bergeser kemudian kita harus mengikutinya?
sangat miris memang...tapi inilah indonesia negara muslim yang mengharuskan umat muslimnya terus menerus berhijrah ke arah yang lebih baik.
Nah, ada sebuah catatan dari pak ustadz yang ngehist bingits di kota bandung,tau ngga siapa namany?sebut saja nama ust dengan sebutan melati HAHAHA, janan deh yaaa kita sebutin aja inisialnya yaitu ustadz DF,yang bikin aku paham dengan fenomena ini. Beliau mengatakan bahwa pola pergaulan (akhwat-ikhwan) di indonesia saat ini umumnya sangat tergantung dengan ideologi / madda’ yang melatar belakanginya. Berarti ideologi menjadi sesuatu yang penting dari pola pergaulan kita, baik ideologi itu dianut dalam sistem negara, maupun yang dipahami dan dijadikan prinsip oleh masing-masing pribadi. Maka jelas orang Amerika Serikat amat bebas dalam pola pergaulannya karena negeri ini memang berideolgi liberalisme. Bisa jadi kita dapat pengaruh ini dari berbagai hal asing yang masuk ke Indonesia.
Terus kita pakai ideologi mana dong? Kalau dari pelajaran PKn pas masih sekolah dulu dijelasin bahwa Indonesia memakai ideologi yang lahir dari dirinya sendiri, yakni Pancasila. Namun jangan lupa bahwa Islam juga telah mengatur berbagai macam hal, seperti makanan, ekonomi, politik, termasuk hubungan antar manusia. So, sebagai muslim kita bisa menggunakan syariat untuk tolak ukur baik-buruknya pergaulan.
Sebagai contoh yuk kita buka surat An-Nur ayat ke-30 s/d 31 yang artinya:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30-31).
Salah satu poin yang diperintahkan Allah pada kita pada ayat tersebut adalah “menahan pandangannya”, istilah kerennya Gadhul Bashar. Mangkanya kalau kebetulan lihat cowok kece atau gadis manis segera tuh geser pandangan ke arah lain biar nggak terjerumus ama pikiran yang enggak-enggak. Jangan dipelototin terus, apa lagi pake difoto.
Pasti ada banyak lagi dong syariat Islam buat mengatur pola pergaulan kita? Jawabannya tentu saja. Oleh karena itu sering-sering baca Al-Quran, hadist, dan datang ke majelis ilmu biar kita lebih banyak tahu. Kita kan sudah diberikan hidayah untuk memeluk Islam oleh Allah, masak mau ngikut-ngikut ideologi lain? Yuk makin banyak belajar tentang Islam :D (Annonymous)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar